Senin, 18 Maret 2013

anjas-bee: “Variabel dan Hipotesis Penelitian”

anjas-bee: “Variabel dan Hipotesis Penelitian”: BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Penelitian ilmiah pada hakikatnya merupakan penerapan metode ilmiah dalam kegiatan keilmuan. Peneli...

Kamis, 14 Maret 2013

Yusriadi: Kalbar Berimajinasi Mengisi Ruang-Ruang Kosong Ilmu Pengetahuan Lokal

 
PONTIANAK- Para sastrawan kalbar kembali menelurkan karya, kali ini berupa kumpulan cerpen yang dikemas dalam sebuah buku berjudul Kalbar Berimajinasi Antologi Cerpen Sastrawan Kalbar yang diluncurkan Sabtu (2/3/2013). Peluncuran buku dilakukan dengan sederhana dan dihadiri para cerpenis dalam buku Kalbar Berimajinasi,  beberapa sastrawan, dan penulis muda di lantai dua Toko Buku Karisma Komplek Ahmad Yani Mega Mall. Acara yang berlangsung selama kurang lebih dua jam setengah itu menghadirkan Dedy Ari Asfar dan Yusriadi selaku editor yang mengupas proses pembuatan buku, Budi Rahman dan Khairul Fuad sebagai pembedah, dan dimoderatori oleh Nano L Basuki yang seluruhnya merupakan sastrawan Kalbar.
Uniknya, buku yang terdiri atas 27 cerpen ini terdiri atas tiga imaji dan berlatar lokal, Kalimantan Barat. “Seluruh karya yang terdapat dalam buku berangkat dari khasanah lokal dan budaya Kalimantan Barat,” ujar Yusriadi selaku editor buku. “Setelah saya berpikir, karya yang masuk ternyata ada tentang cinta dan budaya, dengan beberapa pertimbangan akhirnya saya klasifikasikan karya tersebut menjadi tiga imaji, yaitu tentang cinta, budaya tradisional yang menjadi kearifan lokal, dan budaya popular,” sambungnya. Hal ini sesuai dengan prinsipnya, yaitu mengisi ruang-ruang kosong dalam ilmu pengetahuan lokal dalam konteks pengetahuan global.
Terkait dengan proses pemberian judul, Yusriadi menjelaskan bahwa itu adalah hal pertama yang ia pikirkan saat diberi tugas sebagai editor buku. “Pertama kali yang saya pikirkan saat akan membuat buku ini adalah judul apa yang pas untuk buku ini, judul yang terpikirkan pertama kali adalah Antologi Cerpen Sastrawan Kalbar.” Sambil memperhatikan nilai jual yang berangkat dari konstruksi ilmu lokal akhirnya judul itu ia sempurnakan menjadi Kalbar Berimajinasi Antologi Cerpen Sastrawan Kalbar.
Terakhir, Yusriadi, sang editor yang juga merupakan Dosen STAIN Pontianak menceritakan proses akhir pembuatan buku. “Desain sampul, lay out, menjilid, dan seterusnya hingga naskah terbentuk menjadi buku dikerjakan sendiri oleh Linda (anggota klub menulis STAIN) kecuali pemotongan.” Beliau juga menyampaikan harapannya tentang peluncuran karya yang sifatnya akan lebih lokal dari Kalbar Berimajinasi guna mengisi ruang-ruang kosong dalam ilmu pengetahuan lokal. “Semoga Kalbar dapat kembali membuat karya yang lebih lokal dari Kalbar Berimajinasi, mungkin pada Kalbar Berimajinasi jilid 2,” tegas Yusriadi.

DINA APRIANA (F11110027)

KALBAR BERIMAJINASI MENGUDARA


 Pontianak-Peluncuran  buku Kalbar Berimajinasi  Sabtu, 2 Maret 2013 di toko buku Kharisma berlangsung lancar. Peluncuran buku Kalbar Berimajinasi  dihadiri penulis-penulis Kalimantan Barat yang datang dari beberapa daerah. Peluncuran buku ini merupakan bukti usaha penulis-penulis Kalbar untuk  menggemakan kembali karya sastra yang memuat kearifan lokal di Kalimantan Barat.
Buku Kalbar Berimajinasi merupakan antologi cerpen karya penulis-penulis Kalbar yang terdiri dari berbagai profesi,baik mahasiswa, sastrawan, maupun dosen. Buku Kalbar Berimajinasi diklasifikasikan dalam  tiga tema besar, yaitu: cinta, budaya, dan sosial.
Seperti yang dipaparkan oleh Dedy Ary Asfar ketika memberikan komentar atas peluncuran buku Kalbar Berimajinasi ini. Buku ini merupakan hasil kesadaran para penulis yang tersentil oleh kenyataan bahwa pada saat ini karya sastra cenderung lebih banyak menggunakan tokoh, latar dan alur yang modern. Sementara, karya  sastra yang memiliki tokoh, latar dan alur kampung masih kurang. Karya sastra yang bertokoh, alur dan latar kampung ini seolah dikesampingkan. Oleh karena itulah, para penulis yang terhimpun dalam LSB ini sepakat untuk mengangkat karya sastra yang beranjak dari tema kearifan lokal yang ada di masyarakat Kalimantan Barat.
Buku Kalbar Berimajinasi ini diharapkan mampu menggugah minat pemuda-pemuda Bumi Khatulistiwa untuk berkarya dengan menulis. Hal ini seperti yang dipaparkan oleh Ria Tri Wahyuni penulis cerpen Mantera di Pelosok Kampung dalam antologi cerpen Kalbar Berimajinasi dengan berbinar-binar. “Bagi yang suka menulis, teruslah mencoba walaupun hanya satu kata. Menulis itu tidak perlu rajin. Menulislah untuk menyalurkan inspirasi-inspirasi yang ada. Baik ketika Anda patah hati, marah, putus asa, dll.” jelasnya ketika ditanya setelah acara peluncuran buku Kalbar Berimajinasi  tersebut.

RIA LESTARI (F11110007)

Kalbar Berimajinasi: Tuangkan Budaya dalam Sastra


 Pontianak, Sabtu, 2 Maret 2013, acara bedah buku antologi cerpen “Kalbar Berimajinasi” dilangsungkan di toko buku Kharisma, kompleks Mega Mal A. Yani, tepatnya pukul 15.00 WIB. Bedah buku itu diselenggarakan oleh Lingkar Studi Budaya dan Klub Menulis STAIN yang bekerja sama dengan toko buku Kharisma. Acara itu bertujuan untuk mengupas segala hal tentang antologi ceroen yang resmi diluncurkan bulan November 2012 itu: tentang kelebihan, isi, serta latar belakang penulisan buku.
Bedah buku dibuka dengan penampilan pembacaan puisi yang berjudul “Pucuk Singkong Ikan Gurami untuk Bapak dan Ibu”, oleh Jimmy, pembacaan puisi “Tarian Jiwa”, serta pembacaan cerpen “Kamar 9 B” oleh sastrawan Kalbar, Pradono.
Dalam bedah buku ini, diungkapkanlah tujuan pembuatan antologi cerpen ini, yaitu untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan kebudayaan di Kalbar lewat sastra. “Kalau kita tidak mampu mendokumentasikan (dan mempublikasikan) dalam bentuk riset akademik, kita bisa mendokumentasikan lewat manipulasi kata-kata yang menggambarkan keadaan (Kalbar) yang sebenarnya,” tutur Dedi Ari Aspar, editor antologi cerpen ini.
Hal senada dingkapkan oleh Yusriadi, yang juga merupakan editor buku ini. Beliau mengatakan bahwa tema tentang Kalimantan Barat belum banyak diangkat sebagai tema dalam penulisan sastra. “Tradisi yang saya bangun dalam klub menulis STAIN adalah membuat konstruksi ilmu lokal untuk mengisi ruang-ruang informasi yang kosong,” tuturnya. Maksudnya penulisan buku ini bertujuan untuk menceritakan buadaya-budaya yang belum pernah didokumentasikan.
“Kalau di klub menulis sendiri,” tutur Farminda Aditya, “memang masalah lokalitas itu diutamakan.” Wanita yang merupakan penulis ini mengaku bahwa banyak peneliti dari luar negeri, seperti Amerika, Jepang, dan Australia, yang datang untuk mencari dan menulis informasi tentang Kalbar. “Mereka datang ke sini mau menulis tentang kita. Nah lho, kok kita sendiri gak nulis?” tuturnya.
Puji-pujian dari resensator diungkapkan dalam bedah buku antologi cerpen ini. “Menurut saya buku Kalbar Berimajinasi ini adalah karya anak daerah yang patut diapresiasi,” tutur Budi Hermawan, salah seorang resensator. “Saya kira Anda semua akan sangat merugi apabila tidak membaca buku antologi cerpen ini.” Beliau berkata bahwa buku ini diciptakan jauh dari kevakuman budaya, artinya buku ini menceritakan realita yang memang dialami oleh masyarakat Kalbar sendiri. Beliau berkata bahwa buku-buku yang bertemakan budaya lokal seperti ini sangat perlu di tengah zaman globalisasi, zaman ketika budaya-budaya bangsa sangat terancam eksistensinya. “Kita sekarang terancam kehilangan kearifan lokal kita. Ketika orang mulai menganggap istilah penyapaan seperti ‘mak long’, ‘mak usu’ itu sudah tidak mewakili semangat zaman, itu kan ancaman buat kita,” kata pria berkulit hitam ini seraya memuji keberanian penulis dalam buku ini untuk secara lantang menggunakan istilah-istilah lokal yang dekat dengan akar kebudayaan masyarakat. “Nilai muatan moral yang disampaikan juga sangat dalam, dalam artian berkualitas, bermakna, dan sesuatu banget lah,” tambahnya.

OGY WILLYAM  (F11110022)

1. Lingkar Studi Budaya Gelar Bedah Buku Kalbar Berimajinasi

Pontianak, Sabtu (2/3) ini  bedah buku Kalbar Berimajinasi dilaksanakan di Toko Buku Karisma dihadiri oleh beberapa sastrawan Kalbar.  Beberapa di antaranya merupakan penulis yang karyanya terdapat dalam antologi cerpen tersebut. Acara tersebut merupakan upaya untuk menggeliatkan kembali produktivitas penulis-penulis Kalimantan Barat yang selama ini dirasakan vakum dari menghasilkan karya.
Acara bedah buku Kalbar Berimajinasi diisi dengan art performance  berupa pembacaan puisi dan cerpen kemudian dilanjutkan dengan diskusi  bersama para editornya. Kalbar Berimajinasi merupakan bentuk kepedulian penulis-penulis Kalbar terhadap eksistensi budaya lokal yang semakin lama semakin terlupakan diakibatkan pesatnya perkembangan global.  Dedy Ari Asfar, penulis sekagus editor buku Kalbar Berimajinasi mengungkapkan bahwa pada saat ini begitu banyak karya sastra yang menggunakan perspektif modern.  Beliau juga menambahkan bahwa perspektif “kampung” yang notabene berlandaskan kearifan lokal mulai dihilangkan dan ditinggalkan oleh banyak kalangan penulis,  oleh karena itu  buku Kalbar Berimajniasidijadikan sebagai pencatat budaya dan penulis berhasil memanipulasinya dengan perspektif ilmiah. “Buku ini merupakan karya sastra yang berlatar belakang keadaan sosial Kalimantan Barat,” ungkap beliau yang juga berprofesi sebagai  seorang dosen.
Alasan lain diterbitkannya buku Kalbar Berimajnasi, selain sebagai upaya meningkatkan produktivitas penulis, juga merupakan sarana bagi para penulis Kalbar untuk mempublikasikan karya-karyanya. Hal ini disampaikian oleh Dr. Supriadi,  editor dan  pihak yang menginisiasi terbitnya buku ini.  Selain itu, Budi Rahman, seorang jurnalis mengatakan bahwa penulis  Kalimantan Barat  memiliki kapabilitas untuk menulis buku yang fenomenal.  “Buku ini, dari sudut pandang apapun saya pikir keren!” begitulah ungkapnya di sela-sela diskusi.
Terbitnya antologi cerpen Kalbar Berimajinasi merupakan tanda menggeliatnya  sastrawan Kalimantan Barat. Hal yang lebih menarik adalah karya ini mampu menggabungkan dua sisi imajinasi yang biasanya dipisahkan, yakni intelektual dan emosional. Demikianlah yang disampaikan oleh Khairul Fuad, peneliti bahasa yang menjadi  narasumber dalam bedah buku Kalbar Berimajninasi.


HARIES PRIBADY

Sastrawan Kalbar luncurkan Buku



Pontianak, Toko buku Karisma A.Yani Mega Mall mendadak ramai dikunjungi  banyak orang, Sabtu, (2/3). Di tempat tersebut para satrawan menyelenggarakan peluncuran perdana dan bedah buku “Kalbar Berimajinasi” berbagai kalangan masyarakat hadir menyaksikan kegiatan tersebut, seperti wartawan, pelajar, mahasiswa, dosen dan lainnya.
Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama antara Lingkar Studi Budaya, Club Menulis STAIN, STAIN Press dan TB Karisma itu berjalan lancar dengan suasana kekerabatan yang cukup hangat. Acara diawali dengan pembacaan puisi ‘Pucuk Singkong Ikan Gurame’ oleh Jimmy S Mudya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pihak manajemen toko buku Karisma, Didin Suranso. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih atas adanya kegiatan peluncuran buku Kalbar Berimajinasi di tempat itu dan berharap untuk kedepannya kegiatan serupa dapat diadakan kembali. “Kami dari pihak toko buku Karisma sangat berterima kasih dan merasa bangga diadakannya kegiatan seperti ini di tempat kami. Kami mengucapkan selamat datang untuk para pengunjung dan selamat mengikuti kegiatan ini. Besar harapan kami agar kedepannya kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan kembali, semoga kerja sama ini tetap terjalin dengan baik” ucap Didin.
Terdapat empat pembicara utama dalam kegiatan yang dimoderatori oleh Nano L Basuki ini, empat pembicara tersebut yakni Dr. Yusriadi, Dedy Ari Asfar, Budi Rahman dan Khairul Fuad. Para pembicara tersebut membawakan materi masing-masing terkait buku Kalimantan Barat Berimajinasi. Adapun Dr. Yusriadi dan Dedi Ari Asfar yang juga merupakan editor buku tersebut berbicara mengenai latar belakang pembuatan, teknis pembuatan serta penerbitan buku tersebut. Sedangkan, Budi Rahman dan Khairul Fuad berbicara mengenai isi buku Kalbar Berimajinasi yang mana buku tersebut merupakan gagasan kreatif para penulis dan terkandung nilai moral serta muatan lokal kebudayaan Kalbar sehingga buku tersebut dapat dikatakan sebagai cerminan masyarakat Kalimantan Barat dengan ragam suku dan budaya.
Cerpen-cerpen yang ada dalam buku Kalbar Berimajinasi mengisahkan tentang realitas kehidupan dan lingkungan Kalbar. Titik fokus cerita tersebut bertumpu pada imajinasi Kalimantan Barat mengenai cinta, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Antologi ini muncul menjadi bagian dari karya sastra Kalbar, gagasan intelektual dan emosional tertuang di dalamnya.
“Buku Kalimantan Barat Berimajinasi ini sangat keren dan berkualitas dipandang dari segala sudut, dan tidak kalah dengan karya-karya terkenal yang ditulis oleh cerpenis-cerpenis terkenal di Indonesia. Selain itu, di dalamnya juga memuat nilai moral yang sangat banyak” Ucap Budi Rahman yang juga penulis satu di antara cerpen Kalbar Berimajinasi.
Di akhir kegiatan, acara ditutup dengan pembacaan puisi oleh Nano L Basuki. Puisi tersebut ditulisnya saat acara berlangsung. Ketika diwawancarai, Pak Nano (sebutan akrabnya red.) yang juga perwakilan dari Komunitas Mata Borneo menjelaskan kegiatan bedah buku seperti itu sangat penting dan buku Kalbar Berimajinasi patut dan bagus untuk dipublikasikan. Saat ditanyai mengenai isi buku Kalbar Berimajinasi, beliau menjelaskan bahwa selain terdapat kelebihan dalam buku tersebut juga ada beberapa kelemahan. Kelemahan yang dimkasud yaitu terdapat beberapa kesalahan ketik dalam penulisan kata, keterangan yang tidak relevan, dan penggunaan EYD yang masih kurang.
“Buku Kalbar Berimajinasi ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. Buku tersebut menjadi nilai tambah bagi Kalbar. Kita sebagai masyarakat Kalbar patut  mendukung dan mengapresiasinya. Namun, buku ini masih perlu dilakukan beberapa perbaikan terutama pada ejaan dan pilihan kata, penulisan kata (pengetikan. red) dan perlu kejelasan mengenai keterangan yang ada dengan kata yang dirujuk atau yang ingin diterangkan” Ucapnya.
Beliau juga berpesan kepada pembaca khususnya masyarakat Kalbar agar lebih banyak membaca karya-karya lokal, jangan hanya mengembar-gemborkan karya-karya luar. Akan lebih baik lagi apabila karya-karya tersebut diangkat sebagai objek penelitian sehingga kedepannya karya-karya lokal dapat berkembang lebih baik lagi. YY



 Nama: Yudistira. Y
NIM:   F11110056


Angkat Kearifan Lokal: Sastrawan Luncurkan Kalbar Berimajinasi


Pontianak- “Ini saatnya penulis mencatatkan kebudayaannya dalam sastra,” ucap Dedy, sang editor sekaligus penulis, saat bedah buku kumpulan cerpen Kalbar Berimajinasi pada Sabtu (2/3) di lantai 2, Toko Buku Karisma. Acara ini dihadiri oleh STAIN Pontianak Press dan Club Menulis STAIN Pontianak, penulis, serta beberapa mahasiswa dari Universitas Tanjungpura.
            Buku Kalbar Berimajinasi merupakan hasil kolaborasi beberapa penulis Kalimantan Barat yang berusaha untuk menggunakan pendekatan lokal dalam karya sastra, yaitu cerpen. Cerpen-cerpen dalam buku ini dibagi dalam tiga bagian, yaitu imaji budaya, imaji cinta, dan imaji sosial. Kebudayaan lokal yang tidak dikenal dan hampir hilang, keindahan panorama dan keadaan alam Kalimantan Barat, serta cerita cinta yang berlatar lokal khas dapat dinikmati dari tiga bagian ini.
            Yusriadi, yang juga berperan sebagai editor buku mengungkapkan bahwa buku Kalbar Berimajinasi berusaha untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam konteks pengetahuan lokal. Dalam prosesnya, buku ini mengalami beberapa perubahan judul. Judul pertama adalah Cerpen Sastrawan Kalbar. Akan tetapi, karena mempertimbangkan nilai jual dan beberapa aspek lain, judul buku diubah menjadi Kalbar Berimajinasi dengan klasifikasi merangkap kearifan lokal dan budaya.
            Kalbar Berimajinasi adalah awal dan direncanakan akan ada Kalbar Berimajinasi edisi selanjutnya. “Tidak membaca buku Kalbar Berimajinasi akan rugi karena isinya sangat mendalam dan sesuatu banget deh,” ucap Khairul Fuad atau biasa akrab disapa Bang Fuad, salah seorang pembicara di akhir acara ini sembari tersenyum. 

SITI ROHMAWATI (F11110038)

Stain Press Luncurkan “Kalbar Berimajinasi”


Sabtu, 2 Maret 2013

            Kemarin (2/3), klub menulis Stain mengadakan peluncuran sekaligus bedah buku “Kalbar Berimajinasi” di toko buku Kharisma komplek A. Yani Mega Mall Pontianak. Acara ini dihadiri langsung oleh beberapa sastrawan Kalimantan Barat yang juga ikut terlibat dalam proses kreatif lahirnya “Kalbar Berimajinasi”. Acara peluncuran sekaligus bedah buku ini disambut antusias para penulis Kalbar dan beberapa mahasiswa yang tertarik dengan dunia kepenulisan. “Lahirnya “Kalbar Berimajinasi" berdasarkan diskusi penulis klub menulis Stain yang ingin membuat sebuah buku yang mengangkat kontruksi ruang lokal dalam konteks global”  ujar Yusriadi. Dalam pemaparannya Yusriadi mengungkapkan bahwa tujuan diadakannya bedah buku “Kalbar Berimajinasi ini ialah untuk mengangkat karya sastra  di depan umum, karya sastra yang menceritakan budaya sendiri dan kearifan lokal Kalimantan Barat.

            “Kalbar Berimajinasi” merupakan kumpulan cerpen dari beberapa penulis Kalbar baik penulis-penulis yang sudah dikenal seperti Saifun Arif Kojeh, Pradono, Wayz Ibn Senentang, Dedy Ari Asfar dan beberapa penulis muda lainnya. Antologi cerpen ini mengangkat tema lokalitas sebagai daya tarik tersendiri yang mencerminkan budaya khas kehidupan para penulisnya. Khairul Fuad mengungkapkan dalam wawancaranya bersama Nano L Basuki, bahwa antologi ini muncul menjadi suatu bagian geliat pergerakan sastra Kalimantan Barat. Karya sastra tidak terlepas dari imajinasi, imajinasi yang dibangun dari intelektualitas. Walapun imajinasinya bermacam-macam tetap saja imajinasi yang dimunculkan dalam “Kalbar Berimajinasi” merupakan imajinasi tentang alam, budaya dan adat khas Kalimantan Barat yang dikemas menarik dalam gaya bahasa masing-masing penulisnya.

            Melihat pada proses kreatifnya “Sebagian besar proses editing dalam buku ini tidak begitu berat kecuali untuk penulis pemula”, ungkap Yusriadi. Dalam buku “Kalbar Berimajinasi” ini terbagi atas beberapa bagian yang dikelompokan berdasar genre cerita yang ada yakni imaji budaya, imaji cinta, dan imaji sosial. Pertimbangan dari pengklasifikasian cerpen dalam “Kalbar Berimajinasi” ini sebenarnya hanya untuk membuat kemasan antologi ini menjadi menarik. “Kurang menarik jika hanya disusun berdasarkan urutan masuk cerpennya, sekaligus untuk memperlihatkan bahwa buku ini telah melalui proses editing”, sambung Yusriadi. Melihat tema yang diangkat dalam antologi cerpen ini timbul pertanyaan apa sebenarnya yang membedakan isi cerita dalam antologi cerpen ini dengan daerah lain yang memiliki karakteristik yang sama seperti budaya Melayu yang juga terdapat di daerah Riau. Menanggapi hal tersebut Dedy Ari Asfar memaparkan bahwa “walaupun pada umumnya sama, pasti memiliki perbedaan karena kearifan lokal suatu daerah pasti memiliki perbedaan”. Terkait pemilihan tema kenapa lokal? “Karena keorisinalan mengenai cerita bercorak lokal dan tema lokal juga belum pernah ditulis,”ujar Yusriadi

            Melihat perkembangan dunia kepenulisan Yusriadi menyampaikan harapannya bahwa “Saya yakin Kalbar lima tahun atau sepuluh tahun kedepan akan mengalami loncatan  dalam dunia kepenulisan”. Sepertinya harapan ini tidak berlebihan melihat faktanya bahwa banyak penulis-penulis muda Kalbar yang berpotensi menjadi penulis besar. Melihat antusias pengunjung, Yusriadi selaku editor dalam klub menulis Stain menantang pengunjung untuk membuat cerpen dengan tema lokal yang sama sehingga tibul wacana “Kalbar Berimajinasi Jilid 2”. Akan tetapi hal tersebut bukan hanya rencana, Yusriadi langsung mendeklarasikan bahwa “Kalbar Berimajinasi Jilid 2 akan dirilis dengan mengundang lebih banyak penulis-penulis muda yang berminat. Tenggat waktu pengumpulan cerpen melalui email sampai akhir Mei, sambung Yusriadi pada pengunjung acara bedah buku tersebut.

            Melihat acara yang berjalan cukup sukses, Marsita selaku anggota klub menulis Stain mengaku cukup senang. Menurutnya, dalam dunia menulis yang penting adalah berlatih dan displin menulis. “Beranilah untuk menulis, jangan bicara kualitas, kualitas akan datang dengan sendirinya”, ujar mahasiswa jurusan tarbiyah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri ini. Sependapat dengan pernyataan ini, penulis sekaligus dosen Dedy Ari Asfar mengungkapkan bahwa “berkarya bukan masalah dipasarkan atau tidak, berkarya yang penting memiliki manfaat atau ma’rifat untuk orang banyak”.  Sastrawan sekaligus seniman  Kalbar  Pradono mengatakan bahwa dalam kepenulisan yang penting adalah ekstensi dalam menulis, jangan bermimpi macam-macam jika belum memulai. Menurut Pradono menulis itu tentang rasa, yang diungkapkan adalah rasa segala sesuatunya tentang rasa. Terkait inspirasi, “apa saja bisa jadi inspirasi, kita bisa menulis saat inspirasi itu datang, tulislah di mana saja di kertas, hp, atau gadget canggih lainnya semuanya bisa dimanfaatkan”, sambung Pradono saat di wawancarai setelah usai acara.

SITI MUNAWARA (F11110054) 

TOKO BUKU KHARISMA BEDAH BUKU KALBAR BERIMAJINASI


Pontianak-“Buku ini adalah wadah bagi para sastrawan bagi Kalimantan Barat untuk berkarya”, itulah sambutan Yusriadi dalam acara bedah buku kumpulan cerita pendek “Kalimantan Barat Berimajinasi” ditoko buku Kharisma lantai dua Komplek Ayani Megamall, sabtu (2/3/2013) kemarin. Dalam acara tersebut Yusriadi juga bertindak sebagai editor dari buku tersebut juga juga menceritakan bagaimana awal cerita buku tersebut secara ringkas. “Ide awal dari pembuatan buku Kalimantan Barat Berimajinasi adalah saat saya berada di tempat Pak Dedy Ary Asfar, saya menemukan buku yang judulnya Kalimantan Timur Berimajinasi. Saat itu terpikir oleh saya mengapa Kalimantan Barat tidak menciptakan buku yang sama padahal sastrawan Kalimantan Barat juga mampu membuat buku yang sama” jelas Yusriadi.
Menurut Khairul Fuad, seorang peresensi dari buku tersebut mengatakan “Buku ini cukup menarik, baik dari segi sampul dan isi cerita. Apalagi satu cerita dalam buku tersebut yang mengisahkan tentang seseorang yang menentang ilegal logingyang marak untuk pembukaan lahan sawit, dan kayunya dijual ke Malaysia. Mungkin itulah mengapa Pontianak akhir-akhir ini cuacanya terasa panas, karena tidak adanya hutan lagi sebagai penyejuk”. Fuad juga mengatakan “Buku ini bagus untuk para remaja terutama remaja yang saat ini rentan diterpa rasa galau dan mengambil pelajaran dari buku ini karena banyak mengandung nilai-nilai kebudayaan yang positif. Namun, sayangnya hingga saat ini tim penerbit mengakui masih sulit untuk menemukan pemodal untuk membiayai proses produksi dan juga kesulitan untuk pemasaran buku tersebut secara luas. “Saat ini kita masih hanya dalam tahap mewadahi karya-karya dari sastrawan Kalbar dan belum masuk tahap mencari keuntungan, karena kita belum menemukan pemodal yang mau mendanai kegiatan kita”, ungkap Dr Hermansyah direktur STAIN Press.
Acara yang dimulai dari pukul 15.00 WIB tersebut juga dimeriahkan pembacaan puisi oleh sastrawan-sastrawan lokal Kalimantan Barat. Seperti Pradono, Redia Rosiantoro, Nanda Fitri dan lainnya. Diakhir acara dibuka sesi tanya jawab interaktif tentang buku tersebut dan mendapat antusias dari peserta bedah buku.

Dwi Setiawan (F11110040)

Kalbar berimajinasi, ada di Kharisma


Pontianak - Lingkar Studi Budaya (LSB) serta Club Menulis STAIN mengadakan bedah buku  Kalbar Berimajinasi di toko buku Kharisma, A. Yani Mega Mall, Sabtu (2/3). Suasana ramai pengunjung yang berdatangan menyelimuti atmosfer lantai 2 toko buku terkenal itu. Nano L. Basuki memandu jalannya acara bedah buku dengan penuh semangat. Dedi Ari Asfar, Khairul Fuad, Yusriadi dan Budi Rahman hadir sebagai narasumber, pembedah buku.
          Pengunjung dari berbagai kalangan masyarakat; mahasiswa, penulis, sastrawan dan lainnya hadir menyaksikan acara bedah buku kumpulan cerpen Kalbar Berimajinasi. Bedah buku ini mengupas isi buku dan kronologi terbitnya buku kumpulan cerpen Kalbar Berimajinasi. Satu persatu narasumber menyampaikan argumennya tentang buku itu. Pengetahuan tentang sastra dapat ditransfer dalam bentuk prespektif yang berbeda, yakni dalam bentuk budaya, ujar Dedi. “Kami berharap lahirnya penulis yang tidak malu-malu mengusung alam tempat lahirnya menjadi suatu karya yang adiluhung,” kata dosen FKIP Untan ini.
          Menurut Khairul Fuad, terdapat dua sisi imajinasi yakni intelektual dan emosional. Dalam membangun imajinasi harus ada sisi intelektual. Ia juga mengatakan bahwa ada tiga kerangka tulisan yaitu tulisan sebagai simbol, bahasa, dan apa yang ditulis (pengetahuan). “Dalam karya sastra terdapat imajinasi, apapun bisa ditulis. Sastra tidak terlepas dari imajinasi, untuk itu dibangun dari intelektual dan emosional. Kalbar menjadi imajinasi terkait budayanya,” kata peneliti sastra ini.
          Acara bedah buku dilanjutkan dengan sesi diskusi. Mas Nano mempersilahkan para pengunjung untuk melakukan tanya-jawab dengan narasumber. Beberapa pengunjung mengajukan pertanyaan seputar buku kumpulan cerpen Kalbar Berimajinasi. Dalam sesi itu, Yusriadi menantang dan mengajak pengunjung yang berminat untuk ikut serta berkarya dalam buku kumpulan cerpen Kalbar Berimajinasi jilid 2 yang disepakati akan terbit pada bulan Mei.
          Perlunya menumbuhkan tradisi menulis yang berakar lokal ujar Yusriadi, Dosen STAIN dan editor buku Kalbar Berimajinasi ini. Masyarakat diharapkan mengambil inspirasi dari kebudayaannya sendiri dalam berkarya. “Mari masuklah ke dunia sastra!” ujar Mas Nano ketika membacakan puisi berjudul Dunia Sastra saat menutup acara bedah buku yang berlangsung hingga petang itu. 

Nama               : Teti Laila Adha
NIM                : F11110010

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More