Pontianak, Sabtu, 2 Maret 2013, acara bedah
buku antologi cerpen “Kalbar Berimajinasi” dilangsungkan di toko buku Kharisma,
kompleks Mega Mal A. Yani, tepatnya pukul 15.00 WIB. Bedah buku itu diselenggarakan
oleh Lingkar Studi Budaya dan Klub Menulis STAIN yang bekerja sama dengan toko
buku Kharisma. Acara itu bertujuan untuk mengupas segala hal tentang antologi
ceroen yang resmi diluncurkan bulan November 2012 itu: tentang kelebihan, isi,
serta latar belakang penulisan buku.
Bedah buku dibuka dengan penampilan
pembacaan puisi yang berjudul “Pucuk Singkong Ikan Gurami untuk Bapak dan Ibu”,
oleh Jimmy, pembacaan puisi “Tarian Jiwa”, serta pembacaan cerpen “Kamar 9 B”
oleh sastrawan Kalbar, Pradono.
Dalam bedah buku ini, diungkapkanlah tujuan
pembuatan antologi cerpen ini, yaitu untuk mendokumentasikan dan
mempublikasikan kebudayaan di Kalbar lewat sastra. “Kalau kita tidak mampu
mendokumentasikan (dan mempublikasikan) dalam bentuk riset akademik, kita bisa
mendokumentasikan lewat manipulasi kata-kata yang menggambarkan keadaan
(Kalbar) yang sebenarnya,” tutur Dedi Ari Aspar, editor antologi cerpen ini.
Hal senada dingkapkan oleh Yusriadi, yang
juga merupakan editor buku ini. Beliau mengatakan bahwa tema tentang Kalimantan
Barat belum banyak diangkat sebagai tema dalam penulisan sastra. “Tradisi yang
saya bangun dalam klub menulis STAIN adalah membuat konstruksi ilmu lokal untuk
mengisi ruang-ruang informasi yang kosong,” tuturnya. Maksudnya penulisan buku
ini bertujuan untuk menceritakan buadaya-budaya yang belum pernah
didokumentasikan.
“Kalau di klub menulis sendiri,” tutur
Farminda Aditya, “memang masalah lokalitas itu diutamakan.” Wanita yang
merupakan penulis ini mengaku bahwa banyak peneliti dari luar negeri, seperti
Amerika, Jepang, dan Australia, yang datang untuk mencari dan menulis informasi
tentang Kalbar. “Mereka datang ke sini mau menulis tentang kita. Nah lho,
kok kita sendiri gak nulis?” tuturnya.
Puji-pujian dari resensator diungkapkan
dalam bedah buku antologi cerpen ini. “Menurut saya buku Kalbar Berimajinasi
ini adalah karya anak daerah yang patut diapresiasi,” tutur Budi Hermawan,
salah seorang resensator. “Saya kira Anda semua akan sangat merugi apabila
tidak membaca buku antologi cerpen ini.” Beliau berkata bahwa buku ini
diciptakan jauh dari kevakuman budaya, artinya buku ini menceritakan realita
yang memang dialami oleh masyarakat Kalbar sendiri. Beliau berkata bahwa
buku-buku yang bertemakan budaya lokal seperti ini sangat perlu di tengah zaman
globalisasi, zaman ketika budaya-budaya bangsa sangat terancam eksistensinya.
“Kita sekarang terancam kehilangan kearifan lokal kita. Ketika orang mulai
menganggap istilah penyapaan seperti ‘mak long’, ‘mak usu’ itu sudah tidak
mewakili semangat zaman, itu kan ancaman buat kita,” kata pria berkulit hitam
ini seraya memuji keberanian penulis dalam buku ini untuk secara lantang
menggunakan istilah-istilah lokal yang dekat dengan akar kebudayaan masyarakat.
“Nilai muatan moral yang disampaikan juga sangat dalam, dalam artian
berkualitas, bermakna, dan sesuatu banget lah,” tambahnya.
OGY WILLYAM (F11110022)



0 komentar:
Posting Komentar