Kamis, 14 Maret 2013

Kalbar Berimajinasi: Tuangkan Budaya dalam Sastra


 Pontianak, Sabtu, 2 Maret 2013, acara bedah buku antologi cerpen “Kalbar Berimajinasi” dilangsungkan di toko buku Kharisma, kompleks Mega Mal A. Yani, tepatnya pukul 15.00 WIB. Bedah buku itu diselenggarakan oleh Lingkar Studi Budaya dan Klub Menulis STAIN yang bekerja sama dengan toko buku Kharisma. Acara itu bertujuan untuk mengupas segala hal tentang antologi ceroen yang resmi diluncurkan bulan November 2012 itu: tentang kelebihan, isi, serta latar belakang penulisan buku.
Bedah buku dibuka dengan penampilan pembacaan puisi yang berjudul “Pucuk Singkong Ikan Gurami untuk Bapak dan Ibu”, oleh Jimmy, pembacaan puisi “Tarian Jiwa”, serta pembacaan cerpen “Kamar 9 B” oleh sastrawan Kalbar, Pradono.
Dalam bedah buku ini, diungkapkanlah tujuan pembuatan antologi cerpen ini, yaitu untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan kebudayaan di Kalbar lewat sastra. “Kalau kita tidak mampu mendokumentasikan (dan mempublikasikan) dalam bentuk riset akademik, kita bisa mendokumentasikan lewat manipulasi kata-kata yang menggambarkan keadaan (Kalbar) yang sebenarnya,” tutur Dedi Ari Aspar, editor antologi cerpen ini.
Hal senada dingkapkan oleh Yusriadi, yang juga merupakan editor buku ini. Beliau mengatakan bahwa tema tentang Kalimantan Barat belum banyak diangkat sebagai tema dalam penulisan sastra. “Tradisi yang saya bangun dalam klub menulis STAIN adalah membuat konstruksi ilmu lokal untuk mengisi ruang-ruang informasi yang kosong,” tuturnya. Maksudnya penulisan buku ini bertujuan untuk menceritakan buadaya-budaya yang belum pernah didokumentasikan.
“Kalau di klub menulis sendiri,” tutur Farminda Aditya, “memang masalah lokalitas itu diutamakan.” Wanita yang merupakan penulis ini mengaku bahwa banyak peneliti dari luar negeri, seperti Amerika, Jepang, dan Australia, yang datang untuk mencari dan menulis informasi tentang Kalbar. “Mereka datang ke sini mau menulis tentang kita. Nah lho, kok kita sendiri gak nulis?” tuturnya.
Puji-pujian dari resensator diungkapkan dalam bedah buku antologi cerpen ini. “Menurut saya buku Kalbar Berimajinasi ini adalah karya anak daerah yang patut diapresiasi,” tutur Budi Hermawan, salah seorang resensator. “Saya kira Anda semua akan sangat merugi apabila tidak membaca buku antologi cerpen ini.” Beliau berkata bahwa buku ini diciptakan jauh dari kevakuman budaya, artinya buku ini menceritakan realita yang memang dialami oleh masyarakat Kalbar sendiri. Beliau berkata bahwa buku-buku yang bertemakan budaya lokal seperti ini sangat perlu di tengah zaman globalisasi, zaman ketika budaya-budaya bangsa sangat terancam eksistensinya. “Kita sekarang terancam kehilangan kearifan lokal kita. Ketika orang mulai menganggap istilah penyapaan seperti ‘mak long’, ‘mak usu’ itu sudah tidak mewakili semangat zaman, itu kan ancaman buat kita,” kata pria berkulit hitam ini seraya memuji keberanian penulis dalam buku ini untuk secara lantang menggunakan istilah-istilah lokal yang dekat dengan akar kebudayaan masyarakat. “Nilai muatan moral yang disampaikan juga sangat dalam, dalam artian berkualitas, bermakna, dan sesuatu banget lah,” tambahnya.

OGY WILLYAM  (F11110022)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More