Sabtu, 2 Maret 2013
Kemarin
(2/3), klub menulis Stain mengadakan peluncuran sekaligus bedah buku “Kalbar
Berimajinasi” di toko buku Kharisma komplek A. Yani Mega Mall Pontianak. Acara
ini dihadiri langsung oleh beberapa sastrawan Kalimantan Barat yang juga ikut
terlibat dalam proses kreatif lahirnya “Kalbar Berimajinasi”. Acara peluncuran
sekaligus bedah buku ini disambut antusias para penulis Kalbar dan beberapa
mahasiswa yang tertarik dengan dunia kepenulisan. “Lahirnya “Kalbar Berimajinasi"
berdasarkan diskusi penulis klub menulis Stain yang ingin membuat sebuah buku
yang mengangkat kontruksi ruang lokal dalam konteks global” ujar Yusriadi. Dalam pemaparannya Yusriadi
mengungkapkan bahwa tujuan diadakannya bedah buku “Kalbar Berimajinasi ini
ialah untuk mengangkat karya sastra di
depan umum, karya sastra yang menceritakan budaya sendiri dan kearifan lokal
Kalimantan Barat.
“Kalbar
Berimajinasi” merupakan kumpulan cerpen dari beberapa penulis Kalbar baik
penulis-penulis yang sudah dikenal seperti Saifun Arif Kojeh, Pradono, Wayz Ibn
Senentang, Dedy Ari Asfar dan beberapa penulis muda lainnya. Antologi cerpen
ini mengangkat tema lokalitas sebagai daya tarik tersendiri yang mencerminkan
budaya khas kehidupan para penulisnya. Khairul Fuad mengungkapkan dalam
wawancaranya bersama Nano L Basuki, bahwa antologi ini muncul menjadi suatu
bagian geliat pergerakan sastra Kalimantan Barat. Karya sastra tidak terlepas
dari imajinasi, imajinasi yang dibangun dari intelektualitas. Walapun
imajinasinya bermacam-macam tetap saja imajinasi yang dimunculkan dalam “Kalbar
Berimajinasi” merupakan imajinasi tentang alam, budaya dan adat khas Kalimantan
Barat yang dikemas menarik dalam gaya bahasa masing-masing penulisnya.
Melihat
pada proses kreatifnya “Sebagian besar proses editing dalam buku ini tidak
begitu berat kecuali untuk penulis pemula”, ungkap Yusriadi. Dalam buku “Kalbar
Berimajinasi” ini terbagi atas beberapa bagian yang dikelompokan berdasar genre
cerita yang ada yakni imaji budaya, imaji cinta, dan imaji sosial. Pertimbangan
dari pengklasifikasian cerpen dalam “Kalbar Berimajinasi” ini sebenarnya hanya
untuk membuat kemasan antologi ini menjadi menarik. “Kurang menarik jika hanya
disusun berdasarkan urutan masuk cerpennya, sekaligus untuk memperlihatkan
bahwa buku ini telah melalui proses editing”, sambung Yusriadi. Melihat tema
yang diangkat dalam antologi cerpen ini timbul pertanyaan apa sebenarnya yang
membedakan isi cerita dalam antologi cerpen ini dengan daerah lain yang
memiliki karakteristik yang sama seperti budaya Melayu yang juga terdapat di
daerah Riau. Menanggapi hal tersebut Dedy Ari Asfar memaparkan bahwa “walaupun
pada umumnya sama, pasti memiliki perbedaan karena kearifan lokal suatu daerah
pasti memiliki perbedaan”. Terkait pemilihan tema kenapa lokal? “Karena
keorisinalan mengenai cerita bercorak lokal dan tema lokal juga belum pernah
ditulis,”ujar Yusriadi
Melihat
perkembangan dunia kepenulisan Yusriadi menyampaikan harapannya bahwa “Saya yakin
Kalbar lima tahun atau sepuluh tahun kedepan akan mengalami loncatan dalam dunia kepenulisan”. Sepertinya harapan
ini tidak berlebihan melihat faktanya bahwa banyak penulis-penulis muda Kalbar
yang berpotensi menjadi penulis besar. Melihat antusias pengunjung, Yusriadi
selaku editor dalam klub menulis Stain menantang pengunjung untuk membuat
cerpen dengan tema lokal yang sama sehingga tibul wacana “Kalbar Berimajinasi
Jilid 2”. Akan tetapi hal tersebut bukan hanya rencana, Yusriadi langsung
mendeklarasikan bahwa “Kalbar Berimajinasi Jilid 2 akan dirilis dengan
mengundang lebih banyak penulis-penulis muda yang berminat. Tenggat waktu
pengumpulan cerpen melalui email sampai akhir Mei, sambung Yusriadi pada
pengunjung acara bedah buku tersebut.
Melihat
acara yang berjalan cukup sukses, Marsita selaku anggota klub menulis Stain
mengaku cukup senang. Menurutnya, dalam dunia menulis yang penting adalah
berlatih dan displin menulis. “Beranilah untuk menulis, jangan bicara kualitas,
kualitas akan datang dengan sendirinya”, ujar mahasiswa jurusan tarbiyah di
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri ini. Sependapat dengan pernyataan ini,
penulis sekaligus dosen Dedy Ari Asfar mengungkapkan bahwa “berkarya bukan
masalah dipasarkan atau tidak, berkarya yang penting memiliki manfaat atau
ma’rifat untuk orang banyak”. Sastrawan
sekaligus seniman Kalbar Pradono mengatakan bahwa dalam kepenulisan
yang penting adalah ekstensi dalam menulis, jangan bermimpi macam-macam jika
belum memulai. Menurut Pradono menulis itu tentang rasa, yang diungkapkan
adalah rasa segala sesuatunya tentang rasa. Terkait inspirasi, “apa saja bisa
jadi inspirasi, kita bisa menulis saat inspirasi itu datang, tulislah di mana
saja di kertas, hp, atau gadget canggih lainnya semuanya bisa dimanfaatkan”, sambung
Pradono saat di wawancarai setelah usai acara.
SITI MUNAWARA (F11110054)



0 komentar:
Posting Komentar