Pontianak, Sabtu (2/3) ini bedah buku Kalbar Berimajinasi dilaksanakan
di Toko Buku Karisma dihadiri oleh beberapa sastrawan Kalbar. Beberapa di antaranya merupakan penulis yang
karyanya terdapat dalam antologi cerpen tersebut. Acara tersebut merupakan upaya
untuk menggeliatkan kembali produktivitas penulis-penulis Kalimantan Barat yang
selama ini dirasakan vakum dari menghasilkan karya.
Acara bedah buku Kalbar
Berimajinasi diisi dengan art performance
berupa pembacaan puisi dan cerpen
kemudian dilanjutkan dengan diskusi
bersama para editornya. Kalbar Berimajinasi merupakan bentuk kepedulian
penulis-penulis Kalbar terhadap eksistensi budaya lokal yang semakin lama
semakin terlupakan diakibatkan pesatnya perkembangan global. Dedy Ari Asfar, penulis sekagus editor buku
Kalbar Berimajinasi mengungkapkan bahwa pada saat ini begitu banyak karya
sastra yang menggunakan perspektif modern.
Beliau juga menambahkan bahwa perspektif “kampung” yang notabene
berlandaskan kearifan lokal mulai dihilangkan dan ditinggalkan oleh banyak
kalangan penulis, oleh karena itu buku Kalbar Berimajniasidijadikan sebagai
pencatat budaya dan penulis berhasil memanipulasinya dengan perspektif ilmiah.
“Buku ini merupakan karya sastra yang berlatar belakang keadaan sosial
Kalimantan Barat,” ungkap beliau yang juga berprofesi sebagai seorang dosen.
Alasan lain diterbitkannya buku
Kalbar Berimajnasi, selain sebagai upaya meningkatkan produktivitas penulis,
juga merupakan sarana bagi para penulis Kalbar untuk mempublikasikan karya-karyanya.
Hal ini disampaikian oleh Dr. Supriadi,
editor dan pihak yang
menginisiasi terbitnya buku ini. Selain
itu, Budi Rahman, seorang jurnalis mengatakan bahwa penulis Kalimantan Barat memiliki kapabilitas untuk menulis buku yang
fenomenal. “Buku ini, dari sudut pandang
apapun saya pikir keren!” begitulah ungkapnya di sela-sela diskusi.
Terbitnya antologi cerpen Kalbar Berimajinasi
merupakan tanda menggeliatnya sastrawan
Kalimantan Barat. Hal yang lebih menarik adalah karya ini mampu menggabungkan dua
sisi imajinasi yang biasanya dipisahkan, yakni intelektual dan emosional.
Demikianlah yang disampaikan oleh Khairul Fuad, peneliti bahasa yang
menjadi narasumber dalam bedah buku
Kalbar Berimajninasi.HARIES PRIBADY



0 komentar:
Posting Komentar